Sahabat yang lahir dalam keprihatinan serta meninggal dalam Kesunyian.
Dialah, khalifah Ali bin Abi Thalib ra.Ali kecil merupakan anak yang malang. Tapi, kehadiran Muhammad SAW telah memberikan seberkas pelangi baginya.
Ali bin Abi Thalib
tidak pernah dapat bercurah hati kepada ayahnya, Abi Thalib, selega ia
bercurah hati kepada Rasulullah. Sebab, sampai akhir hayatnya pun, Abi
Thalib tetap tak dapat mengucap kata syahadat tanda penyerahan hatinya
kepada Allah. Ayahnya tak pernah dapat merasa betapa nikmatnya saat
bersujud menyerahkan diri kepada Allah SWT Rabb semesta sekalian alam.
Kematian ayahnya tanpa membawa
sejumput iman begitu memukul Ali. Kelak dari sinilah, Ali kemudian
bertekad kuat untuk tidak mengulang kejadian ini untuk kedua kali. Ali
ingin, saat dirinya mesti mati nanti, anak anaknya tidak lagi menangisi
ayahnya seperti tangis dirinya untuk ayahnya, Abi Thalib. Tidak cuma
dirinya, disebelahnya, Rasulullah SAW pun turut menangisi kenyataan
tragis ini. Saat paman yang selama ini melindunginya, tidak mampu ia
lindungi nanti. Di hari akhir, karena ketiaadaan iman di dalam dadanya.
Kenyataan
ini Betul betul pahit, padahal Ali tahu bahwa ayahnya sangatlah
mencintai dirinya dan Rasulullah. Saat ayahnya, buat pertama kali
memergoki dirinya sholat berjamaah bersama Rasulullah, ia telah
menyatakan dukungannya. Abi Thalib berkata, "Janganlah kau berpisah
darinya (Rasulullah), karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada
kebaikan".
Sejak masih berumur 6 tahun, Ali sudah bersama dan
menjadi pengikut setia Rasulullah. Sejarah kelak mencatat bahwa Ali
terbukti berkomitmen pada kesetiaannya. Ali sudah hadir bersama
Rasulullah sejak awal dan baru berakhir saat Rasulullah menghembuskan
nafasnya yang terakhir. Ali ada disaat yang lain tiada. Ali merupakan
tameng hidup Rasulullah dalam kondisi kritis atau dalam berbagai
peperangan genting, saat diri Rasulullah terancam.
Kecintaan Ali
pada Rasulullah, dibalas dengan sangat manis oleh Rasulullah SAW. Pada
sebuah kesempatan Rasulullah SAW menghadiahkan kepada Ali sebuah
kalimat yang begitu melegenda, yaitu : "Ali, engkaulah saudaraku. Di
dunia dan di akhirat..." Ali, merupakan pribadi yang istimewa. Ia
marupakan remaja pertama di belahan bumi ini yang meyakini kebenaran
yang disampaikan oleh Rasulullah. Konsekuensinya adalah, ia kemudian
seperti tercerabut dari kegermerlapan dunia remaja. Disaat remaja lain
berhura hura. Ali sudah berkenalan dengan nilai nilai spiritual yang
ditunjukkan oleh Rasulullah, baik melalui lisan maupun melalui
tindak-tanduk beliau. "Aku selalu mengikutinya (Rasulullah SAW)
sebagaimana anak kecil selalu membuntuti ibunya. Setiap hari ia
menunjukkan kepadaku akhlak yang mulia dan memerintahkanku untuk
mengikuti jejaknya", begitu kata Ali mengenang masa masa indah bersama
Rasulullah SAW tidak lama sesudah Rasulullah wafat.
Amirul
mukminin Ali, tumbuh menjadi pemuda yang berdedikasi. Dalam berbagai
forum serius yang dihadiri para tetua, Ali selalu ada mewakili kemudaan.
Namun, muda tak berarti tak bijaksana. Banyak argumen dan kata kata Ali
yang kemudian menjadi rujukan. Khalifah Umar bin Khatab bahkan pernah
berkata,"Tanpa Ali, Umar sudah lama binasa"
Pengorbanannya
menjadi buah bibir dalam sejarah Islam. Ali-lah yang bersedia tidur di
ranjang Rasulullah SAW, menggantikan dirinya, saat rumahnya sudah
terkepung oleh puluhan pemuda terbaik utusan kaum kafir Quraisy yang
hendak membunuhnya di pagi buta. Ali bertaruh nyawa. Dan hanya karena
Allah saja semata, bila kemudian ia masih tetap selamat, begitu juga
dengan Rasulullah yang saat itu 'terpaksa' hijrah ditemani Abu Bakar
seorang.
Keperkasaan Ali tiada banding. Pada perang Badar, perang
pertama yang paling berkesan bagi Rasulullah (Hingga sesudahnya, beliau
memanggil para sahabat yang ikut berjuang dalam Badar dengan sebutan "
Yaa...ahlul Badar..."), Ali menunjukkan siapa dirinya sesungguhnya.
Dalam perang itu Ali berhasil menewaskan separo dari 70an pihak musuh
yang terbunuh. Hari itu, bersama sepasukan malaikat yang turun dari
langit, Ali mengamuk laksana badai gurun.
Perang Badar adalah
perang spiritual. Di sinilah, para sahabat terdekat dan pertama-tama
Rasulullah menunjukkan dedikasinya terhadap apa yang disebut dengan
iman. Mulanya, jumlah lawan yang sepuluh kali lipat jumlahnya
menggundahkan hati para sahabat. Tapi, doa pamungkas Rasulullah menjadi
penyelamat dari jiwa-jiwa yang gundah. Sebuah doa, semirip ultimatum,
yang sesudah itu tak pernah lagi diucapkan Rasulullah..."Ya Allah,
disinilah sisa umat terbaikmu berkumpul...jika Engkau tak menurunkan
bantuanmu, Islam takkan lagi tegak di muka bumi ini..."
Dalam
berbagai suroh, disebutkan bahwa musuh kemudian melihat jumlah pasukan
muslim seakan tiada batasnya, padahal jumlah sejatinya tidaklah lebih
dari 30 orang. Pasukan berjubah putih berkuda putih seperti turun dari
langit dan bergabung bersama pasukan Rasulullah. Itulah, kemenangan
pasukan iman. Dan Ali, menjadi bintang lapangannya hari itu. Tak hanya
Badar, banyak peperangan sesudahnya menjadikan Ali sebagai sosok yang
disegani. Di perang Uhud, perang paling berdarah bagi kaum muslim, Ali
menjadi penyelamat karena dialah yang tetap teguh mengibarkan panji
Islam sesudah satu demi satu para sahabat bertumbangan. Dan yang
terpenting, Ali melindungi Rasulullah yang kala itu terjepit sampai gigi
Rasulullah bahkan rompal dan darah mengalir di mana-mana. Teriakan
takbir dari Ali menguatkan kembali semangat bertarung para sahabat,
terutama sesudah melihat Rasululah dalam kondisi kritis.
Perang
Uhud meski pahit namun sejatinya berbuah manis. Di Uhud, Rasulullah SAW
banyak kehilangan sahabat terbaiknya, para ahlul Badar. Termasuk
pamannya, Hamzah - sang singa padang pasir. Kedukaan yang tak terperi,
sebab Hamzah-lah yang selama ini loyal melindungi Rasulullah setelah Abi
Thalib wafat. Buah manisnya adalah, doa penting Rasulullah juga
terkabul, yaitu masuknya Khalid bin Walid. Panglima musuh di Perang
Uhud, ke pangkuan Islam. Khalid kemudian, sampai akhir hayatnya
mempersembahkan kontribusi besar terhadap kemenangan dan perkembangan
Islam.
Bagi Ali bin Abi Thalib sendiri, perang
Uhud makin menguatkan imagi tersendiri pada sosok Fatimah binti Muhammad
SAW. Sebab di perang Uhud, Fatimah turut serta. Dialah yang membasuh
luka ayahnya, juga Ali, berikut pedang dan baju perisainya yang
bersimbah darah. Juga di perang Khandak. Perang yang juga terhitung
genting. Perang pertama yang sifatnya psyco-war. Ali kembali menjadi
pahlawan, sesudah cuma ia satu satunya sahabat yang berani maju meladeni
tantangan seorang musuh yang dikenal jawara paling tangguh, Amr bin
Abdi Wud. Dalam gumpalan debu pasir dan dentingan suara pedang. Ali
bertarung satu lawan satu. Rasulullah SAW bahkan bersabda: “Manifestasi
seluruh iman sedang berhadapan dengan manifestasi seluruh kekufuran”.
Dan
teriakan takbir menjadi pertanda, bahwa Ali menyudahinya dengan
kemenangan. Kerja keras Ali bin Abi Thalib berbuah. Kemenangan di raih
pasukan Islam tanpa ada benturan kedua pasukan. Tidak ada pertumpahan
darah. kegemilangan ini, membuat Rasulullah SAW pada sebuah kesempatan :
“Peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari
kiamat kelak”.Seluruh peperangan Rasulullah SAW diikuti oleh Ali,
kecuali satu di Perang Tabuk. Rasulullah memintanya menetap di Mekkah
untuk menjaga stabilitas wilayah. Karena Rasulullah mengetahui, ada
upaya busuk dari kaum munafiq untuk melemahkan Mekkah dari dalam saat
Rasulullah keluar memimpin perang Tabuk. Kehadiran Ali di Mekkah, meski
seorang diri, telah berhasil memporak porandakan rencana buruk itu.
Nyali mereka ciut, mengetahui ada Ali bin Abi Thalib di tengah tengah mereka.
Perubahan
drastis ditunjukkan Ali sesudah Rasulullah SAW wafat. Ia lebih suka
menyepi, bergelut dengan ilmu, mengajarkan Islam kepada murid muridnya.
Di fase inilah, Ali menjadi sosok dirinya yang lain, yaitu seorang
pemikir. Keperkasaannya yang melegenda telah diubahnya menjadi sosok
yang identik dengan ilmu. Ali benar-benar terinspirasi oleh kata-kata
Rasulullah, "jika aku ini adalah kota ilmu, maka Ali adalah pintu
gerbangnya". Dari ahli pedang menjadi ahli kalam (pena). Ali begitu
tenggelam didalamnya, hingga kemudian ia 'terbangun' kembali ke
gelanggang untuk menyelesaikan 'benang ruwet', sebuah nokta merah dalam
sejarah Islam. Sebuah fase di mana sahabat harus bertempur melawan
sahabat.
Kenangan Bersama Fatimah Az-Zahra
Sejatinya, sosok
Fatimah Az Zahra sudah lama ada di hati
Ali bin Abi Thalib.
Ali-lah yang mengantarkan Fatimah kecil meninggalkan Mekkah menyusul
ayahnya yang telah dulu hijrah. Ali pula yang menyaksikan dengan mata
kepala sendiri, betapa Fatimah menangis tersedu-sedu setiap kali
Rasulullah dizhalimi. Ali dapat merasakan betapa pedihnya hati fatimah
saat ia membersihkan kotoran kambing dari punggung ayahnya yang sedang
sholat, yang dilemparkan dengan penuh kebencian oleh orang-orang kafir
quraisy.
Bagi Fatimah, sosok Rasulullah, ayahnya, merupakan sosok
yang paling dirindukannya. Walau hati sedih bukan kepalang, duka tidak
berujung suka, begitu melihat wajah ayahnya, semua sedih dan duka akan
sirna seketika. Bagi Fatimah, Rasulullah merupakan inspirator terbesar
dalam hidupnya. Fatimah hidup dalam kesederhanaan karena Rasulullah
menampakkan padanya hakikat kesederhanaan dan kebersahajaan. Fatimah
belajar sabar, karena Rasulullah sudah menanamkan makna kesabaran
melalui deraan dan fitnah yang diterimanya di sepanjang hidupnya. Dan
Ali merasakan itu semua. Sebab Ali bin Abi Thalib tumbuh dan besar di
tengah-tengah mereka berdua.
Maka, ketika Rasulullah
mempercayakan Fatimah pada dirinya, sebagai belahan jiwanya, sebagai
teman mengarungi kehidupan, maka ketika itulah hari paling bersejarah
bagi dirinya. Karena sesunguhnya, Fatimah bagi Ali merupakan seperti
bunda Khodijah bagi
Muhammad SAW.
Sangatlah istimewa. Suka duka, yang lebih banyak dukanya mereka lewati
bersama. Dua hari sesudah kelahiran Hasan, putra pertama mereka, Ali
mesti berangkat pergi ke medan perang bersama Rasulullah. Ali tidak
pernah benar-benar dapat mencurahkan seluruh cintanya untuk Fatimah juga
anaknya. Ada mulut mulut umat yang menganga yang juga menanti cinta
sang khalifah.
Mereka berdua hidup dalam kesederhanaan.
Kesederhanaan yang sampai mengguncang langit. Penduduk langit bahkan
sampai ikut menangis karenanya. Berhari-hari tak ada makanan di meja
makan. Puasa tiga hari berturut turut sebab ketiadaan makanan pernah
hinggap dalam kehidupan mereka. Tengoklah Ali, dia sedang menimba air di
pojokkan sana, Setiap timba yang bisa angkat, dihargai dengan sebutir
kurma. Hasan dan Husein bukan main riangnya mendapatkan sekerat kurma
dari sang ayah.
Pun, demikian tidak pernah ada keluk kesah dari
mulut mereka. Bahkan, mereka masih dapat bersedekah. Rasulullah...tak
mampu menahan tangisnya... ketika mengetahui Fatimah memberikan
satu-satunya benda berharga miliknya, seuntai kalung peninggalan sang
bunda Khodijah, saat kedatangan pengemis yang meminta belas kasihan
padanya. Rasulullah, yang perkasa itu, tak dapat menyembunyikan betapa
air matanya menetes satu persatu...terutama mengingat bahwa kalung itu
begitu khusus maknanya bagi dirinya... dan fatimah rela melepasnya, demi
menyelamatkan perut seorang pengemis yang lapar, yang bahkan tidak pula
dikenalnya.
Dan lihatlah...langit tak diam. Mereka sudah
menyusun rencana. Hingga, melalui tangan para sahabat, kalung itu
akhirnya kembali ke Fatimah. Sang pengemis, budak belaian itu dapat
pulang dalam keadaan kenyang, dan punya bekal pulang, menjadi hamba yang
merdeka pula. Dan yang terpenting adalah kalung itu sudah kembali ke
lehernya yang paling berhak...Fatimah. Namun, waktu terus berjalan.
Cinta di dunia tidaklah pernah abadi. Sebab jasad terbatasi oleh usia.
Mati.
Sepeninggal Rasulullah, Fatimah lebih sering berada dalam
kesendirian. Fatimah bahkan sering sakit sakitan. Sebuah kondisi yang
sebelumnya tidak pernah terjadi saat rasulullah masih hidup. Fatimah
seperti tak dapat menerima, mengapa kondisi umat begitu cepat berubah
sepeninggal ayahnya. Fatimah merasa telah kehilangan sesuatu yang
bernama cinta pada diri umat terhadap pemimpinnya. Dan Fatimah semakin
menderita karenanya setiap kali ia terkenang pada sosok yang
dirindukannya, Rasulullah SAW.
Pada masa saat kekalutan tengah
berada di puncaknya, Fatimah teringat pada sepenggal kalimat rahasia
ayahnya. Pada detik-detik kematian Rasulullah...di tengah isak tangis
Fatimah...Rasulullah membisikkan sesuatu pada Fatimah, yang dengan itu
sudah berhasil membuat Fatimah tersenyum. Senyum yang tidak bisa
terbaca. Pesan Rasulullah itu sangatlah rahasia, dia hanya dapat
terkatakan nanti sesudah Rasulullah wafat atau saat Fatimah seperti
sekarang ini...terbujur di pembaringan. Ya, Rasulullah berkata,
"Sepeninggalku, ...diantara bait-ku (keluargaku), engkaulah yang
pertama-tama akan menyusulku..."
Kini, Fatimah sudah menunggu
masa itu. Ia sudah sedemikian rindu dengan ayahanda pujaan hatinya.
Sesudah menatap mata suaminya, dan menggenggam erat tangannya...seakan
ingin berkata, "kutunggu dirimu nanti di surga...bersama ayah...",
Fatimah Az-Zahra
menghembuskan nafasnya yang terakhir.Dengan sisa-sisa tenaga yang
dimilikinya... dalam deraian air mata... Ali menguburkan jasad istrinya
tercinta itu...yang masih belia itu...sendiri...di tengah malam
buta...Ali tidak ingin membagi perasaannya itu dengan orang lain. Mereka
berdua larut dalam keheningan yang hanya mereka berdua yang tahu. Lama
Ali terpekur di gundukan tanah merah yang baru saja dibuatnya. Setiap
katanya merupakan setiap tetes air matanya. Mengalir begitu deras.
Sampai kemudian, dengan dua tangan terkepal. Ali bangkit berdiri...dan
berteriak sekeras sekerasnya sambil menghadap langit...." A L L A H U
... A K B A R".
Pertempuran Antar Sahabat
Setelah menjadi Khalifah. Amirul
Mukminin Ali bin Abi Thalib ra, kemudian berkonsentrasi membenahi
kondisi umat. Terutama pada sisi administrasi pemerintahan, ekonomi dan
stabilitas pertahanan. Beberapa reformasi fundamental, seperti
penggantian pejabat dan pengambilan kembali harta yang pernah diberikan
oleh khalifah sebelumnya (Ustman bin Affan) menyulut kontroversi.
Terutama, dalam kacamata awam, Ali tak pula kunjung menyeret pelaku
pembunuhan Khalifah Ustman ke pengadilan.
Yang harus dihadapi
Ali bin Abi Thalib
tak tanggung-tanggung, sahabatnya sendiri. Sahabat yang dulu pernah
berjuang bersama Rasulullah menegakkan Islam, kini berada dalam barisan
yang hendak melawannya. Bahkan ada pula sahabat yang dulu membaiatnya
menjadi khalifah, kini turut pula menghadangnya. Kondisi yang sangat
pahit.
Ali tidak pandang bulu. Baginya hukum menyentuh siapa
saja. Tidak ada istilah 'orang kuat' di mata Ali. Bagi Ali bin Abi
Thalib, "orang lemah terlihat kuat dimataku, saat aku harus berjuang
keras mengembalikan hak miliknya yang terampas. Orang kuat terlihat
lemah di mataku, saat aku terpaksa mengambil sesuatu darinya yang bukan
menjadi haknya".
Di masa
Khalifah Ali bin Abi Thalib,
pusat pemerintahan di pindahkan ke Kuffah. Dari sini kemudian ia
mengendalikan wilayah Islam, yang ketika itu sudah meluas termasuk Syam.
Kondisi ketika itu benar-benar membutuhkan ketegasan. Sebagai khalifah
terakhir dalam bingkai Khulafa Ar-rasyidin, Ali bin Abi Thalib
dihadapkan pada masa pelik. Dimana akar dari permasalahannya adalah
makin bertambahnya Islam dari segi jumlah tapi semakin berkurang pula
dari segi kualitas. Interest pribadi (nafs), kesukuan (nasionalisme
sempit) yang dibalut atas nama agama, menjadi awal mulanya masa
kemunduran Islam.
Ketidak sempurnaan informasi yang diterima
bunda Aisyah di Mekkah terhadap beberapa kebijakan Khalifah Ali telah
membuatnya menyerbu Kuffah. Perang Jamal (Unta), demikian sejarah
mencatatnya. Karena bunda Aiysah ra memimpin perang melawan Ali dengan
menunggangi Unta. Bersama Aisyah, turut pula sahabat Zubair bin Awam dan
Thalhah. Di akhir peperangan, Khalifah Ali bin Abi Thalib menjelaskan
semuanya, dan Siti Asiyah dipulangkan dengan hormat ke Mekkah. Ali
mengutus beberapa pasukan khusus untuk mengawal kepulangan bunda Aisyah
ke Mekkah.
Berikutnya adalah Perang Shiffin. Bermula dari
Gubernur Syam, Muawiyyah bin Abu Sofyan yang menyatakan penolakannya
atas keputusan Ali mengganti dirinya sebagai gubernur. Kondisi serba
tidak taat ini membuat Ali masygul. Mereka bertemu dalam Perang Siffin.
Pada saat saat memasuki kekalahannya, pasukan Syam kemudian mengangkat
Al-Quran tinggi-tinggi dengan tombaknya, yang membuat pasukan Kufah
menghentikan serangan. Dengan cara ini, kemudian dibukalah pintu dialog.
Perundingan
inilah yang kemudian membawa babak baru dalam kehidupan Ali, bahkan
dunia Islam hingga saat ini. Sebuah tahkim (arbitrase) yang menurut
sebagian pihak membuat Ali di bagian pihak yang kalah, namun menunjukkan
kemuliaan hati Ali di sisi lain. Syam mengutus Amru Bin 'Ash yang
terkenal dengan negosiasinya dan Ali mengutus Abu Musa Asyari, yang
terkenal dengan kejujurannya.
Ali nampak betul betul berharap
terhadap perundingan ini dan menghasilkan traktat yang membawa kedamaian
diantara keduanya. Tapi, kelihaian mengolah kata kata dari pihak Syam
membuat arbitrase itu seperti mengukuhkan kemunduran Ali bin Abi Thalib
sebagai khalifah dan menggantikannya dengan Muawiyah.
Dan ini
menimbulkan ketidakpuasan dari beberapa elemen di pasukan Ali. Dari
sini, lahirlah para Khawarij yang kelak kemudian, bertanggung jawab
terhadap kematian Khalifah Ali bin Abi Thalib. Khawarij itu, Tiga untuk
Tiga... Mereka membentuk tim berisi tiga orang yang tugasnya membunuh
tiga orang yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap perundingan
tersebut. Abdurahman bin Muljam ditugasi untuk membunuh Ali bin Thalib,
Amr bin Abi Bakar ditugasi untuk membunuh Muawiyah, dan Amir bin Bakar
ditugasi untuk membunuh Amr bin Ash. Mereka kemudian gagal membunuh
tokoh-tokoh ini, kecuali Abdurahman bin Muljam yang membunuh
Ali bin Abi Thalib.
Menjelang wafatnya
Khalifah Ali bin Abi Thalib ra,
Ali sempat bermuram durja. Sebab, penduduk Kuffah termakan propaganda
dan kehilangan ketaatan kepada dirinya. Ketika Ali meminta warga Kuffah
untuk mempersiapkan diri menyerbu Syam, namun warga Kuffah tidak terlalu
menanggapi seruan itu. Ini berdampak psikologis amat berat bagi Ali.
Tidak hanya sekali dua kali. tapi acapkali seruan Khalifah Ali bin Abi
Thalib di anggap angin lalu oleh warga Kufah.
Sebab itu, Ali bin
Abi Thalib sempat berkata, “Aku terjebak di tengah orang-orang tidak
menaati perintah dan tidak memenuhi panggilanku. Wahai kalian yang tidak
mengerti kesetiaan! Untuk apa kalian menunggu? Mengapa kalian tidak
melakukan tindakan apapun untuk membela agama Allah? Mana agama yang
kalian yakini dan mana kecemburuan yang bisa membangkitkan amarah
kalian?”
Pada kesempatan yang lain beliau juga berkata, “Wahai
umat yang jika aku perintah tidak menggubris perintahku, dan jika aku
panggil tidak menjawab panggilanku! Kalian adalah orang-orang yang
kebingungan kala mendapat kesempatan dan lemah ketika diserang. Jika
sekelompok orang datang dengan pemimpinnya, kalian cerca mereka, dan
jika terpaksa melakukan pekerjaan berat, kalian menyerah.
Aku
tidak lagi merasa nyaman berada di tengah-tengah kalian. Jika bersama
kalian, aku merasa sebatang kara.” "Jika bersama kalian, aku merasa
sebatang kara". Pernyataan pedih mewakili hati yang pedih. Dalam
kehidupan kekinian, mungkin bertebaran di tengah-tengah kita
pemimpin-pemimpin baru atau anak-anak muda berjiwa pembaharu yang dalam
hatinya sama dengan dalamnya hati Ali bin Abi Thalib ra ketika
mengucapkan kalimat itu. Mereka menawarkan jalan cerah tapi, kita
umatnya memilih kegelapan yang nampak menyilaukan. Kita abai terhadap
ajakan mereka, dan malah mungkin memusuhinya... mengisolasinya.
Ahhh...semoga kita terhindar dari kelakuan keji itu...
Usaha
Khalifah Ali bin Abi Thalib ra untuk menyusun kembali peta kekuatan
Islam sebenarnya sudah diambang keberhasilan. Satu demi satu yang
dulunya tercerai berai telah kembali berikrar setia pada beliau. Tapi,
Allah berkehendak lain, sesudah berjuang keras sekitar 5 tahun menjaga
amanah kepemimpinan umat, dan sesudah melewati berbagai fitnah dan
deraan, Khalifah Ali menyusul kekasih hatinya, Rasulullah SAW dan
FAtimah Az-Zahra menghadap Sang Pencipta, Allah SWT.
Hari itu,
tanggal 19 ramadhan tahun 40 H, ketika beliau mengangkat kepala dari
sujudnya, sebilah pedang beracun terayun dan mendarat tepat di atas
dahinya. Darah mengucur deras membahasi mihrab masjid. “Fuztu wa rabbil
ka’bah. Demi pemilik Ka’bah, aku telah meraih kemenangan.”, sabda Ali di
tengah cucuran darah yang mengalir. Dua hari setelahnya, Khalifah Ali
bin Abi Thalib wafat. Ia menemui kesyahidan seperti cita-citanya.
Seperti istrinya, Ali bin Abi Thalib juga dimakamkan diam-diam di gelap
malam oleh keluarganya di luar kota Kuffah.
Di detik-detik
kematiannya, bibir beliau berulang-ulang mengucapkan “Lailahaillallah”
dan membaca ayat, “Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah. Waman
ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah.” yang artinya, “Siapapun yang
melakukan kebaikan sebiji atompun, dia akan mendapatkan balasannyanya,
dan siapa saja melakukan keburukan meski sekecil biji atom, kelak dia
akan mendapatkan balasannya.”
Beliau sempat pula mewasiatkan
nasehat kepada keluarganya dan juga umat muslim. Di antaranya : menjalin
hubungan sanak keluaga atau silaturrahim, memperhatikan anak yatim dan
tetangga, mengamalkan ajaran Al-Qur’an, menegakkan shalat yang merupakan
tiang agama, melaksanakan ibadah haji, puasa, jihad, zakat,
memperhatikan keluarga Nabi dan hamba-hamba Allah, serta menjalankan amr
maruf dan nahi munkar.
Islam sudah ditinggalkan oleh satu lagi
putra terbaiknya. Pengalaman heroik hidupnya sudah melahirkan begitu
banyak kata-kata mulia yang mungkin akan pula menjadi abadi. Ali bin Abi
Thalib menjadi inspirasi bagi setiap pemimpin yang ingin membawa bumi
ini pada ketundukan kepada Allah SWT.
Ketika Ali bin Abi Thalib
dicerca dari banyak arah, lahirlah perkataan beliau : “Cercaan para
pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan
Allah”. Ketika beliau harus menerima kenyataan pahit berperang dengan
sahabatnya sendiri, dan juga mendapatkan persahabatan dari orang yang
dulunya menjadi musuh, lahirlah : "Cintailah sahabatmu biasa saja, sebab
mungkin ia akan menjadi penentangmu pada suatu hari, dan bencilah
musuhmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi sahabatmu pada suatu
hari".
Ali bin Abi Thalib juga sangat menghormati ilmu. Tidak
terkira banyaknya, kalmat bijak yang keluar dari mulutnya tentang
keutamaan mencari ilmu. Ia juga menyarankan orang untuk sejenak
merenungi ilmu dan hikmah-hikmah kehidupan. Kata beliau, "Renungkanlah
berita yang kau dengar secara baik-baik (dan jangan hanya menjadi
penukil berita), penukil ilmu sangatlah banyak dan perenungnya sangat
sedikit".
Khalifah Ali bin Abi Thalib ra merupakan sebuah
legenda. He is a legend. Dan legenda tidak akan pernah mati. Bisa jadi,
saat lilin-lilin di sekitar kita mulai padam satu persatu, dan kita
kehilangan panduan karenanya, maka pejamkanlah saja sekalian matamu.
Hadirkan para legenda-legenda Islam itu, termasuk beliau ini dalam
benakmu dan niscaya ia akan menjadi penerang bagimu...seterang-terangnya
cahaya yang pernah ada di muka bumi.