Assalamualaikum /.....Promosi..
Disini kita menyediakan jasa kathering makanan pesta,jajanan pasar, aneka Bubur dan yang paling fenomenal yaitu Kolak Pisang.
disini memang tampak biasa saja tapi anda belum mengetahui istimewanya kalau blm mampir dan mencoba product yang kami tawarkan... harga pun juga sangat terjangkau..
terletak di kota Kudus desa jati kulon RT02 RW04.
kalau ingin memesan Product kuliner dari kami.. silahkan Hub :
sms/telp :085327778874
Whatsup :082172214913
"kami hanya memberikan yang terbaik untuk amanah anda"
wassalamualaikum..
hiburan manfaat
Selasa, 06 Agustus 2013
Senin, 29 Juli 2013
ciri pengikut syiah indonesia
Inilah 15 ciri pengikut Syi'ah
di Indonesia
Ukasyah Jum'at, 12 Ramadhan 1434 H / 19 Juli 2013
22:19
Penganut
Agama Syi'ah di Indonesia.
(Arrahmah.com)
- Indonesia tengah
menjadi target Syi’ahisasi besar-besaran. Hingga kini banyak pengikutnya berada
di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.
Jumlah
penganut Syiah di Indonesia Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait
Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat, pernah mengatakan kisaran jumlah penganut
Syiah di Indonesia , “Perkiraan tertinggi, 5 juta orang. Tapi, menurut saya,
sekitar 2,5 jiwa,” kata Kang Jalal, sapaan Jalaluddin Rakhmat. Pemeluk Syiah,
kata Kang Jalal melanjutkan, sebagian besar ada di Bandung, Makassar, dan
Jakarta. Selain itu, ada juga kelompok Syiah di Tegal, Jepara, Pekalongan, dan
Semarang; Garut; Bondowoso, Pasuruan, dan Madura.
Diperkirakan,
kebanyakan dari mereka sedang melakukan taqiyah dalam rangka melindungi diri
dari kelompok Sunni. Taqiyah adalah kondisi luar seseorang dengan yang ada di
dalam batinnya tidaklah sama. Memang taqiyah juga dikenal di kalangan Ahlus
Sunnah. Hanya saja menurut Ahlus Sunnah, taqiyah digunakan untuk menghindarkan
diri dari musuh-musuh Islam alias orang kafir atau ketika perang maupun kondisi
yang sangat membahayakan orang Islam.
Ketua Dewan
Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaluddin Rakhmat.
Sementara
itu menurut Syi’ah bahwa Taqiyah wajib dilakukan. Jadi taqiyah adalah salah
satu prinsip agama mereka. Taqiyah dilakukan kepada orang selain Syi’ah,
seperti ungkapan bahwa Al Quran Syi’ah adalah sama dengan Al Quran Ahlus
Sunnah. Padahal ungkapan ini hanyalah kepura-puraan mereka. Mereka juga
bertaqiyah dengan pura-pura mengakui pemerintahan Islam selain Syi’ah.
Menurut Ali
Muhammad Ash Shalabi, taqiyah dalam Syiah ada empat unsur pokok ajaran; Pertama,
Menampilkan hal yang berbeda dari apa yang ada dalam hatinya. Kedua,
taqiyah digunakan dalam berinteraksi dengan lawan-lawan Syiah. Ketiga,
taqiyah berhubungan dengan perkara agama atau keyakinan yang dianut
lawan-lawan. Keempat, digunakan di saat berada dalam kondisi
mencemaskan
Menurut
Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi di Majalah Islam Internasional Qiblati, ciri-ciri
pengikut Syi’ah sangat mudah dikenali, kita dapat memperhatikan sejumlah
cirri-ciri berikut:
- Mengenakan songkok hitam dengan bentuk tertentu. Tidak seperti songkok yang dikenal umumnya masyarakat Indonesia, songkok mereka seperti songkok orang Arab hanya saja warnanya hitam.
- Tidak shalat jum’at. Meskipun shalat jum’at bersama jama’ah, tetapi dia langsung berdiri setelah imam mengucapkan salam. Orang-orang akan mengira dia mengerjakan shalat sunnah, padahal dia menyempurnakan shalat Zhuhur empat raka’at, karena pengikut Syi’ah tidak meyakini keabsahan shalat jum’at kecuali bersama Imam yang ma’shum atau wakilnya.
- Pengikut Syi’ah juga tidak akan mengakhiri shalatnya dengan mengucapkan salam yang dikenal kaum Muslimin, tetapi dengan memukul kedua pahanya beberapa kali.
- Pengikut Syi’ah jarang shalat jama’ah karena mereka tidak mengakui shalat lima waktu, tapi yang mereka yakini hanya tiga waktu saja.
- Mayoritas pengikut Syi’ah selalu membawa At-Turbah Al-Husainiyah yaitu batu/tanah (dari Karbala – redaksi) yang digunakan menempatkan kening ketika sujud bila mereka shalat tidak didekat orang lain.
- Jika Anda perhatikan caranya berwudhu maka Anda akan dapati bahwa wudhunya sangat aneh, tidak seperti yang dikenal kaum Muslimin.
- Anda tidak akan mendapatkan penganut Syi’ah hadir dalam kajian dan ceramah Ahlus Sunnah.
- Anda juga akan melihat penganut Syi’ah banyak-banyak mengingat Ahlul Bait; Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiyallahu anhum.
- Mereka juga tidak akan menunjukkan penghormatan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, mayoritas sahabat dan Ummahatul Mukminin radhiyallahu anhum.
- Pada bulan Ramadhan penganut Syi’ah tidak langsung berbuka puasa setelah Adzan maghrib; dalam hal ini Syi’ah berkeyakinan seperti Yahudi yaitu berbuka puasa jika bintang-bintang sudah nampak di langit, dengan kata lain mereka berbuka bila benar-benar sudah masuk waktu malam. (mereka juga tidak shalat tarwih bersama kaum Muslimin, karena menganggapnya sebagai bid’ah)
- Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menanam dan menimbulkan fitnah antara jamaah salaf dengan jamaah lain, sementara itu mereka mengklaim tidak ada perselisihan antara mereka dengan jamaah lain selain salaf. Ini tentu tidak benar.
- Anda tidak akan mendapati seorang penganut Syi’ah memegang dan membaca Al-Qur’an kecuali jarang sekali, itu pun sebagai bentuk taqiyyah (kamuflase), karena Al-Qur’an yang benar menurut mereka yaitu al-Qur’an yang berada di tangan al-Mahdi yang ditunggu kedatangannya.
- Orang Syi’ah tidak berpuasa pada hari Asyura, dia hanya menampilkan kesedihan di hari tersebut.
- Mereka juga berusaha keras mempengaruhi kaum wanita khususnya para mahasiswi di perguruan tinggi atau di perkampungan sebagai langkah awal untuk memenuhi keinginannya melakukan mut’ah dengan para wanita tersebut bila nantinya mereka menerima agama Syi’ah. Oleh sebab itu Anda akan dapati;
- Orang-orang Syi’ah getol mendakwahi orang-orang tua yang memiliki anak putri, dengan harapan anak putrinya juga ikut menganut Syi’ah sehingga dengan leluasa dia bisa melakukan zina mut’ah dengan wanita tersebut baik dengan sepengetahuan ayahnya ataupun tidak. Pada hakikatnya ketika ada seorang yang ayah yang menerima agama Syi’ah, maka para pengikut Syi’ah yang lain otomatis telah mendapatkan anak gadisnya untuk dimut’ah. Tentunya setelah mereka berhasil meyakinkan bolehnya mut’ah. Semua kemudahan, kelebihan, dan kesenangan terhadap syahwat ini ada dalam diri para pemuda, sehingga dengan mudah para pengikut Syi’ah menjerat mereka bergabung dengan agama Syi’ah.
Ciri-ciri
mereka sangat banyak. Selain yang kami sebutkan di atas masih banyak ciri-ciri
lainnya, sehingga tidak mungkin bagi kita untuk menjelaskan semuanya di sini.
Namun cara yang paling praktis ialah dengan memperhatikan raut wajah. Wajah
mereka merah padam jika Anda mencela Khomeini dan Sistani, tapi bila Anda
menghujat Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan Hafshah, atau sahabat-sahabat
lainnya radhiyallahu anhum tidak ada sedikitpun tanda-tanda
kegundahan di wajahnya.
Akhirnya, dengan
hati yang terang Ahlus Sunnah dapat mengenali pengikut Syi’ah dari wajah hitam
mereka karena tidak memiliki keberkahan, jika Anda perhatikan wajah mereka maka
Anda akan membuktikan kebenaran penilaian ini, dan inilah hukuman bagi siapa
saja yang mencela dan menyepelekan para sahabat Nabi shallallahu alaihi
wa sallam dan para ibunda kaum Musliminradhiyallahu anhunn yang
dijanjikan surga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita memohon
hidayah kepada Allah untuk kita dan mereka semua.
Wallahu
a’lam.
(fimadani.com/arrahmah.com)
- See more
at:
http://www.arrahmah.com/kajian-islam/inilah-15-ciri-pengikut-syiah-di-indonesia.html#sthash.6wJeZl9e.dpuf
IRONI IRAN,YANG MESRA TERHADAP YAHUDI
memang segalanya hanya Allah semata.. terimakasih atas yang Engkau berikan kepada hamba, memang semua blm bisa hamba
Ironi Iran; anti Zionis mesra dengan Yahudi, sementara Muslim menderita
Siapa
sangka, pemerintah Syiah Iran yang anti Israel ternyata mesra dengan
umat Yahudi di negaranya. Mungkin anda tercengang dan tak percaya namun
fakta dan data berbicara seperti itu.
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/ironi-iran-anti-zionis-mesra-dengan-yahudi-sementara-muslim-menderita.html#sthash.UTQ6C3RQ.dpuf
bismillah. saya akan bagikan beberapa artikel yang saya dapt dari arrahmah.comMeski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/ironi-iran-anti-zionis-mesra-dengan-yahudi-sementara-muslim-menderita.html#sthash.UTQ6C3RQ.dpuf
Siapa
sangka, pemerintah Syiah Iran yang anti Israel ternyata mesra dengan umat
Yahudi di negaranya. Mungkin anda tercengang dan tak percaya namun fakta dan
data berbicara seperti itu.
Meski
katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran.
Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada
sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran,
yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian
lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan,
Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara
ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka
bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh
mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa,
perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin
secara berkala.
Sejak
sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah
Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi
Elit berperan aktif.
Salah
seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa
waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun
itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini,
kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga
mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas
yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan
Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita
Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra
dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran.
Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad
Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ
disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali
mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada
ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran
ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah
pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi
Ahlussunnah Iran.
“No sunnah
masjids in Iran”. Itulah
kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni
Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada
umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka
bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data
statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19
juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis
utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis
perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri
Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat
penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh
Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi
tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam
sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim
Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila
perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para
ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami
penganiayaan.
DR. Ali
Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus
menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus
meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua
tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari
Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh
Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah
yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan
Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama
lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Ironi Iran; anti Zionis mesra dengan Yahudi, sementara Muslim menderita
A. Z. Muttaqin Ahad, 20 Ramadhan 1434 H / 28 Juli 2013 17:30
(Arrahmah.com) – Siapa
sangka, pemerintah Syiah Iran yang anti Israel ternyata mesra dengan
umat Yahudi di negaranya. Mungkin anda tercengang dan tak percaya namun
fakta dan data berbicara seperti itu.
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Ironi Iran; anti Zionis mesra dengan Yahudi, sementara Muslim menderita
A. Z. Muttaqin Ahad, 20 Ramadhan 1434 H / 28 Juli 2013 17:30
(Arrahmah.com) – Siapa
sangka, pemerintah Syiah Iran yang anti Israel ternyata mesra dengan
umat Yahudi di negaranya. Mungkin anda tercengang dan tak percaya namun
fakta dan data berbicara seperti itu.
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Ironi Iran; anti Zionis mesra dengan Yahudi, sementara Muslim menderita
A. Z. Muttaqin Ahad, 20 Ramadhan 1434 H / 28 Juli 2013 17:30
(Arrahmah.com) – Siapa
sangka, pemerintah Syiah Iran yang anti Israel ternyata mesra dengan
umat Yahudi di negaranya. Mungkin anda tercengang dan tak percaya namun
fakta dan data berbicara seperti itu.
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Ironi Iran; anti Zionis mesra dengan Yahudi, sementara Muslim menderita
A. Z. Muttaqin Ahad, 20 Ramadhan 1434 H / 28 Juli 2013 17:30
(Arrahmah.com) – Siapa
sangka, pemerintah Syiah Iran yang anti Israel ternyata mesra dengan
umat Yahudi di negaranya. Mungkin anda tercengang dan tak percaya namun
fakta dan data berbicara seperti itu.
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Ironi Iran; anti Zionis mesra dengan Yahudi, sementara Muslim menderita
A. Z. Muttaqin Ahad, 20 Ramadhan 1434 H / 28 Juli 2013 17:30
(Arrahmah.com) – Siapa
sangka, pemerintah Syiah Iran yang anti Israel ternyata mesra dengan
umat Yahudi di negaranya. Mungkin anda tercengang dan tak percaya namun
fakta dan data berbicara seperti itu.
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Ironi Iran; anti Zionis mesra dengan Yahudi, sementara Muslim menderita
A. Z. Muttaqin Ahad, 20 Ramadhan 1434 H / 28 Juli 2013 17:30
(Arrahmah.com) – Siapa
sangka, pemerintah Syiah Iran yang anti Israel ternyata mesra dengan
umat Yahudi di negaranya. Mungkin anda tercengang dan tak percaya namun
fakta dan data berbicara seperti itu.
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Ironi Iran; anti Zionis mesra dengan Yahudi, sementara Muslim menderita
A. Z. Muttaqin Ahad, 20 Ramadhan 1434 H / 28 Juli 2013 17:30
(Arrahmah.com) – Siapa
sangka, pemerintah Syiah Iran yang anti Israel ternyata mesra dengan
umat Yahudi di negaranya. Mungkin anda tercengang dan tak percaya namun
fakta dan data berbicara seperti itu.
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Ironi Iran; anti Zionis mesra dengan Yahudi, sementara Muslim menderita
A. Z. Muttaqin Ahad, 20 Ramadhan 1434 H / 28 Juli 2013 17:30
(Arrahmah.com) – Siapa
sangka, pemerintah Syiah Iran yang anti Israel ternyata mesra dengan
umat Yahudi di negaranya. Mungkin anda tercengang dan tak percaya namun
fakta dan data berbicara seperti itu.
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBC beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i,“ demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf. Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran
(azmuttaqin/arrahmah.com)
Langganan:
Postingan (Atom)


